10 Jul 2020

Sejarah Singkat

SEJARAH MUHAMMADIYAH SETIABUDI PAMULANG

(The History of Muhammadiyah Setiabudi Pamulang)

 

“Sebuah renungan untuk mendapatkan nilai-nilai ajaran Islam dengan cara Memahami, Menghayati dan Mengamalkan Ajaran Islam yang Sesungguhnya”

 


Ditulis oleh: Hikmatul Fitri, S.Si


Pengantar Penulisan

            Segala puji bagi Alloh SWT atas segala nikkmat-Nya yang dicurahkan kepada kita sekalian. Maksud di tuliskannya buku ini berisi perjalanan dan perkembangan Muhammadiyah awal pertama kali di bentuk dan didirkan hingga hari ini berdiri, agar menjadi Pengingat akan betapa pentingnya sejarah Muhammadiyah Pamulang untuk kemajuan dan perkembangan Muhammadiyah di masa mendatang. Penulisan ini didasari kenyataan dan fakta yang ada dan berisi pitutur yang di gali dari para pendiri yang pada waktu itu memegang prinsip ajaran Muhammadiyah yang sudah di canangkan oleh Pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan, yang seyogyanya banyak melihat dan mendengar, apa yang di lihat, apa yang didengar, dipikirkan dan dirasakan, mana yang baik dan mana yang buruk, yang baik disimpan dan yang buruk dibuang. Untuk mendapatkan nilai-nilai ajaran Islam adalah dengan cara memahami ajaran Islam, menghayati dan mengamalkan dengan sesungguhnya.

Alloh berjanji barangsiapa yang mengikuti perintahku dan mematuhi larangannya (taqwa) Alloh akan memberikan bimbingan, petunjuk pimpinan dalam hidupnya. Orang yang dapat petunjuk dari Alloh tidak akan tersesat di dunia dan di Akhirat. Semoga tulisan ini dapat menjadi acuan bagi kader Muhammadiyah agar dapat di baca serta di cermati sejarah Perkembangan Muhammadiyah Setiabudi Pamulang  hingga hari ini.

Demikian pengantar penulisan ini kami buat agar menjadi titik awal untuk penulisan ini selanjutnya.

Nasrun Minallah Wa fathun Qorib..

Tonggak Sejarah

            Muhammadiyah Setiabudi Pamulang yang saat ini berdiri adalah bermula dari Muhammadiyah Wilayah Tanah Abang yang masuk wilayah Jakarta Pusat. Wacana pendirian Muhammadiyah cabang Seiabudi ini sudah di persiapkan sekitar tahun 1957 – 1958, bermula dari kerabat dan handai taulan yang sering menghadiri pengajian di Muhammadiyah Tanah Abang yang sering diisi Pengajian oleh Bapak Prodjokusumo dan Amir Siregar sebagai Pembicaranya waktu itu. Pada Tahun 1959 para penggagas yang waktu itu sudah mempersiapkan Pendirian Ranting Muhammadiyah di Wilayah Setiabudi Jakarta Selatan adalah Bapak. H. Mardiyono, Bapak Azhari dan Mahmudin (?). Kemudian gagasan untuk mendirikan Ranting juga di sambut oleh kerabat lain yang memiliki Visi dan Misi yang sama terhadap Muhammadiyah. Nah munculah Bapak Ilyas, Bapak Nasmudin Ahmad yang kemudian secara bersama-sama dengan tekad bulat di dirikanlah Ranting Muhammadiyah Setiabudi. Karena baru berdiri Ranting Muhammadiyah belum memiliki Kantor untuk keperluan Administrasi, sementara apabila ada Rapat atau Penyusunan kerja pengurus di pakai Rumah H. Mardiyono yang terletak di Jalan Sumbangsih No. 24 Setiabudi, untuk mengadakan pertemuan dan rapat. Pendirian ranting Muhammadiyah Setiabudi waktu itu juga mendapat dukungan dari pengurus RT di wilayah itu yaitu Bapak Dulyani. Pak Dulyani pun memperkenalkan seorang yang juga aktif alam kegiatan keagaman sekaligus juga pemilik Mushola di wilayah tersebut dialah Pak Jauhari. Kemudian akhirnya Mushola milik Pak Jauhari ini lah yang kemudian di jadikan tempat berkumpul untuk para pengurus ranting Muhammadiyah sekaligus juga untuk tempat ibadah. Namun seiring waktu Alhamduliah kegiatan demi kegiatan bertambah ramai, maka pengurus memikirkan untuk membangun dan mempeluas Mushola yang hanya berukuran 6 x 6 m kemudian oleh Bapak H. Mardiyono dan pengurus lainnya di perluas menjadi 9 x 9 m dan kemudian berdirilah Masjid yang pertama di bangun oleh ranting Muhammadiyah Setiabudi, kemudian di beri nama masjid tersebut dengan Masjid Al-Jihad yang melambangkan kesungguhan para pengurus dan pendiri ranting akan Semangat untuk berdakwah dan mengajarkan Agama Islam di lingkungan dan menjadikan Muhammadiyah sebagai Sarana Dakwah. Alhamdulilah, Allah memberikan kemudahan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang mau berjuang di jalan Allah. Pengurus ranting Muhammadiyah disibukan dengan membuka berbagai kegiatan keagaman bahkan sudah di buka Tempat Bermain (TB) Anak-anak di sekitar Masjid Al-Jihad. Kemudian Munculah rencana untuk pembangunan tempat Pendidikan (Sekolah) di sekitar Masjid sebagai sarana mencerdaskan anak Bangsa dan membangun Pribadi Muslim yang sesungguhnya.

Pembangunan Pendidikan Muhammadiyah

1.                Setelah selesai sekolah dasar pada tahun 1950 saya diantar  oleh Bapak untuk sekolah ke Solo dan diantar ke Pondok Pesantren Nirbitan dalam Asuhan Bapak. Abdussomad. Didaftarkan di SMP Muhammadiyah di Simpang Pasar Kliwon. Setelah klas II saya pindah ke Mualimin Muhammadiyah sampai lulus dan meneruskan ke BI Bahasa baru samapai ke Tk. II.

2.                            Selama saya berada di Pondok Saya selallu mengikuti kursus-kursus/pengajian yang si ceramah/kursus adalah:                                                  

a.    K.Abdurrojak masalah Falakiyah

b.    KH. Yunus Anis ke Muhammuhammadiyaan.

c.     K. Mulyadi Joyomartono masalah sosial.

d.    Prof. KH. Farid Ma'ruf. Masalah Akhlakul Karimah.

e.     Bapak. Ibu Salimi masalah ke Organisasian Bapak Syuhud Rais (ayah tokoh dari Amien Rais) Masalah Kemasyarakatan / Ukhuwah Islamiah tahun 1952 saya dengan kawan-kawan pengajian masuk Muhammadiyah langsung kita mendaftar ke Jogyakarta dengan rekomendasi dari cabang Solo. Dan dari pengalaman tersebut. Saya masuk Ranting Muhammadiyah Dabusukuman.

3.             Setelah saya pindah ke Jakarta dan Kebetulan sayabekerja di PP Muhammadiyah di Majelis Pendidikan tahun 1957 dan pada tahun 1959 saya pindah ke Setiabudi dari Jl. Karet dan yang juga pertama saya dari langgar yang terdekat di Rumah kita tersebut. Ketemulah dekat rumah ada langgar Pak Djauhari ukuran langgar 3x6 m setelah kita ketemu banyak kenalan yang se-Ide dengan kita maka langgar tersebut kita robah pada bangunan dan tanahnya di beli menjadi ukuran 6x9 m sponsor pembangunan pada wakru itu adalah Bapak H. Iskak Janggawirana dan Bapak Nazar, Nasmudin Ahmad. Pelaksanaannya adalah Bapak Jana dan Bapak ngajar Ngaji di Rumah Bapak Syaryan Syah.

4.             Akhirnya bertemu juga orang yang sudah menjadi Anggota Muhammadiyah ialah Bapak H. Ilyas, Bapak -Aswafi, Bapak Azhari, Mujahidin, Rusdi Qosim, sepakatlah membuat Ranting Muhammadiyah Induknya cabang Tanah Abang sebelum pcndirian ranting memang sudah sering mengikuti pengajian di cabang Tanah Abang diantar dengan Bus. Di Setiabudi ada pengajian Ibu-ibu di Rumah Ibu Notowijaya S di sponsori oleh Ibu Syaryansyah

5.             Alhamdulillah pada tgl. 5 juni 1960 berdirilah ranting Setiabudi Karet yang di lantik oleh Bp. Mr.Lubis dari ca-bang Tanah Abang. Dengan ketuanya bapak Azhari. Wakil Bapak. Ilyas SN, Sekretaris saya (Mardiyono wakilnya).

6.                            Setelah berdiri ranting maka banyak langkah yang harus di jalankan dan untuk sementra koordinasinya di rumah saya. Mencari tanah untuk sekolah TK. BKIA dan menyelesaikan Masjid untuk sementara di buka SD. Bertempat di rumah Bapak. Syuryansyah, sementara gurunya Ibu Sudirman dkk. Setelah berkembang dapat membangun dan membeli tanah di tanahnya bapak Jauhari untuk didirikan SD dan SMP sementara tanah yang dibeli oleh Bapak. Haji IlyaS SN. Terus berkembang dan rumahnya bapak haji Ilyas didirikan TK sementara yang mengajar juga Ibu Iskak dan Ibu Ilyas, Ibu Darti. Sedang SD Siti Musyirafah dan SMP Bapak Drs. Zaid.

7.                            Sementara di rumah bapak di Jl.Setiabudi Raya No. 24 A  didirikan  Poliklinik yang di resmikan oleh  Bapak Dr.Kusnadi, dan dokter yang perpraktek di poliklinik itu ialah Dr. Budi Darmoyo, Dr. Nurhae Abdurahman, Dr. Lutfi Usman Dr. Rumiyati Usman Dr. Haliq Usman dan lain-lainnya sedang perawatnya Bp. Sularman Burhan. Setelah maju ada yang meminjami tempat ialah di rumahnya bapak Partojuga di resmikan oleh Bapak Dr. Kusmadi

8.              Dapat membeli kantor muhammadiyah yang di sponsori oleh Bapak Isyas SN rumah tersebut. Rumahnya bapak Jana dan dibeli oleh Bapak Ilyas dan terus di renovasi di tingkat 2 lantai bawah untuk TK di belakang dan di depan untuk BKIA bangunan di urus oleh Bapak Nasudin Ahmad dan sebagian bantuan dari Bapak S. Projokusumo sementara Bidan Djundariah Cs.

9.                              BKIA pindah ke Karet Belakang yang saat ini dipakai oleh Dr. Busra karena BKIA sudah bisa bangun sendiridiKaret Gg.II

 

10.                       Kantor tersebut diatas untuk mangkal anak Pemuda dan NA yang tinggal disitu ialah Badrun Qomaruddin, Djazrie dan kelompok Mugeni Ramli RR, Luman BST dan Lukman Ahmad sumira dsb.

11.                     Dengan adanya tempat tersebut Muhammdiyah tambah maju dan giat seluruhnya   bergerak  maju  baik Muhammadiyah dan ;Pemudanya.

12.                       Pemuda berdiri di karet pada tahun 1963 di ketuai oleh Sulaiman Dasi Cs. Terbentuk pula Muhammadiyah yang di ketuai oleh Sutawijaya sekretaris Mar Djohan SC Muhimmadiyah ranting karet Belakang mengelola SD dan SMP yang dibangun oleh Cab.Muhammadiyah Setiabudi Karet oleh Bp. Ilyas SN. Namun setelah ada pergantian pimpinan cabang oleh Drs. Nasrun Harun dan Ilham Hamidi SD dan SMP di robah menjadi Yayasan Mubasyisirin yang berarti Muhammadiyah Ranting Karet Belakang tidak lagi mengurusi Sekolah tersebut.

13.         Muhammadiyah terus maju dan terus berdiri Ranting Dukuh Atas, Ranting Karet belakang II dan Ranting Setiabudi. Dengan telah berdirinya beberapa ranting itu perlu ada yang menekuni di cabang dan terbentuklah cabang setiabudi karet, dan sekretariat hariannya adalah Saudara Budiman Asmara. Untuk kegiatan cabang yang Pertama adalah kuliah Romadhan yang diselenggarakan oleh Pemuda dan NA yang dikoordinir oler Ahmad Syarba'i, Sulaiman dasi Aim. dan Wahid. Penceramahnya:

a.        Buya Malik Ahmad

b.        Muhammad Room

c.        Buya HAMKA

d.        Bapak. Projokusumo

e.        Amiruddin Siregar

f.          K as man Singodimrjo

g.        Sutan Sadtt

h.        Rusdi Hamka

i.          Lukman Harun

j.          Buya Sutan Mansyur

k.        Moh. Room

Dan Banyak lagi yang ceramahnya dibuat daftar dan judul cerihmanya oleh penyelenggara. Sedang kendaraan untuk menjemput adalah memakai mobil masda sopirnya ialah Sarwando, setelah ganti mobil memakai mobil Fiat. Sedang Aisyiyahnyapun juga mengadakan pengajian Mingguan malah sampai saat ini yang mengisi Ibu Syamsidar dan Ummi Rokayah Maksum Aim. Bisa membeli rumah di Gg. BB untuk usaha dinamakan BUEKA. Uang untuk membeli sebagian dari Aisyiyah dan sebagian saya pinjam uang kantor (lewat Pak Zainul Bahri) dengan di potong tiap bulan. Yang saat ini rumah tersebut. Dipakai Pribadi pengurus muhammadiyah yang baru.

14.     Sekolahpun di setiabudi juga maju pesat kebetulan Kepala sekolahnya Siti Musyrifah sedang melahirkan waktu pimpinan (ketua) Drs. Nasrun Harun sekretarisnya llham Hamidi kepada sekolah terus diganti oleh walinya namanya Rusmin diberikan surat: Pemberhentian tanpa alasanaramun itu semuanya kita terima mudah-mudahan ada hikmahnya. Alhamdulillah dengan Ibu tidak mengajar lagi dapat memperbaiki kehidupan rumah tangga dan mendidik anak jadi terurus.

15.             Waktu itu muhammadiyah dan pemuda NA kompak setelah Pimpinan Drs. Nasrun Harun dan llham Hamidi akhirnya pemuda pecah jadi firqoh-firqoh ada yang ARIS ada yang RISKA dsb. Sejak itu pemudanya bubar dan NA nyapun tidak ada kegiatan.

16.              Berdiri juga Asuhan Keluarga yang di pimpin oleh Ibu Tati Maryono Aim. Mestinya itu kader Muhammadiyah tetapi jadi  kadernya  ARIS,  Namun begitu  tetap Muhammadiyah Cabang setiabudi sudah komplet memiliki usaha kader Muhammadiyah banyak sekarang yang jadi pejabat, seperti Mugeni Polisi pangkatnya tinggi Ramli RR, Adwar Sandoto Staf Duta Besar di bangkok, Drs. Nasir Tati Staf. Kedutaaan di Amerika, dan banyak lagi yang kesemuanya adalah teman-teman penggerak Bapak di Muhammadiyah termasuk Dr. Ridwan ke Aceh sedang Generasi yang berikutnya baru Drs. Thabrani, Dr.Busyra,  Ewo  Ahmad dan Hikmat generasi yang berikutnya.

17.   Pada tahun 1976 setelah bapak tidak di cabang maka dapat  leluasa dan menekuni pembangunan Masjid yang pertama  dibangun bersama.

a. Bapak Haji Somad dan Bapak Harun Membangun masjid Al-Jihad direncanakan 3